Namun ternyata ada syarat-syarat tertentu yang dapat membolehkan kita untuk bermaksiat. Dengan kata lain siapapun kita berhak untuk melakukan segala bentuk kemaksiatan JIKA bisa dan mampu untuk memenuhi beberapa syarat yang akan kita bahas ini. Diantara syarat-syarat untuk dibolehkan dan dihalalkannya maksiat tersebut adalah:
Syarat Pertama: Boleh maksiat jika tidak ada yang melihat.
Syarat pertama adalah tidak ada satupun yang bisa dan mampu melihat disaat kita melakukan maksiat. Jadi silahkan bersembunyi dimanapun, kalau tidak ada SATUPUN yang melihat disaat kita bermaksiat, namun kenyataannya meskipun kita bisa bersembunyi dari penglihatan manusia, kita sama sekali dan tidak akan mungkin bisa lari dari penglihatan dan pengawasan Allah SWT.
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
ألَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
"Namun... kenyataannya meskipun kita bisa bersembunyi dari penglihatan manusia, kita sama sekali dan tidak akan mungkin bisa lari dari penglihatan dan pengawasan Allah SWT".
Jikalah kiranya kita tidak mampu untuk bersembunyi dari pengawasan Allah, lalu kenapa kita berani bermaksiat dihadapan Allah? Bukankah Allah Maha Melihat? Bukankah Allah Maha Mengetahui Segala apa yang kita kerjakan? Apakah kita tidak punya rasa Malu untuk bermaksiat dihadapan Allah?
Disaat kita sedang berzina contohnya, meskipun ditempat yang tertutup, tidak terlihat oleh seorangpun, tapi ingatlah bahwa Allah selalu melihat apa yang kita kerjakan. Dan apa yang kita kerjakan saat itu akan dimintai pertanggungjawaban dihari akhir nanti. Mampukah kita menyangkal disaat semua amal kita diperlihatkan kelak? Sekali-kali kita tidak akan bisa lari darinya.
Syarat kedua: Boleh maksiat jika tidak tinggal di bumi milik Allah SWT.
Allah adalah pemilik alam semesta beserta isinya. Dalam Al Quran Allah berfirman:
Jadi selama kita masih tinggal dibumi, maka sebagai orang yang menumpang hidup kita tidak pantas untuk berbuat seenak hati kita. Seperti halnya seorang tamu yang berkunjung dirumah orang lain, maka kita tidak pantas berbuat semau kita. Akan tetapi kita harus bersikap sopan dan mengikuti aturan yang ada sebagai tamu.
Lalu bisakah kita memenuhi syarat yang kedua ini? Tentu jawabannya adalah “Mustahil”. Jika itu tidak mungkin, lalu kenapa kita masih berbuat maksiat dihadapan Allah? Seharusnya kita malu pada diri kita masing-masing..
Syarat ketiga: Boleh maksiat jika tidak makan makanan yang datang dari Allah.
Allah Subhanahuwata’ala adalah Maha Pemberi sekaligus yang menanggung semua rizki bagi seluruh makhluknya. Baik yang didarat, laut ataupun diudara. Semua mendapatkan rejeki atas kehendak dan ijin Allah. Tak terkecuali semua hasil usaha dan hasil jerih payah kita dalam bekerja ini adalah pemberian Allah SWT.
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Semua syarat diatas sudah jelas bahwa kita semua selamanya tidak akan mampu untuk memenuhinya. Dengan kata lain maksiat dan berbuat kejahatan itu adalah haram dan dilarang oleh Allah SWT. Semoga kita selalu sadar akan segala keburukan kita, dan kemudian berbuat kebaikan demi mendapatkan rahmat dan ridho dariNYA.
Penulis: Ust. Abu Syauqie Al Mujaddid (Dewan Pembina Solusi Islam)
Sumber Artikel solusiislam.com












