************************************************************************************************************************************************************************************

************************************************************************************************************************************************************************************

************************************************************************************************************************************************************************************

************************************************************************************************************************************************************************************

************************************************************************************************************************************************************************************

Pages

Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juni 15, 2014

Syarat dibolehkannya maksiat

Syarat dibolehkannya maksiat
Sebagai seorang yang beriman kepada Allah SWT, tentu kita dituntut untuk selalu melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, salah satu dari larangan Allah adalah berbuat maksiat atau melakukan kejahatan. Segala bentuk maksiat baik kecil atau besar, terlihat atau tersembunyi, semua sudah jelas dan ada keterangannya dalam Al Quran dan Hadits agar kita menjauhinya.


Namun ternyata ada syarat-syarat tertentu yang dapat membolehkan kita untuk bermaksiat. Dengan kata lain siapapun kita berhak untuk melakukan segala bentuk kemaksiatan JIKA bisa dan mampu untuk memenuhi beberapa syarat yang akan kita bahas ini. Diantara syarat-syarat untuk dibolehkan dan dihalalkannya maksiat tersebut adalah:


Syarat Pertama: Boleh maksiat jika tidak ada yang melihat.
Syarat pertama adalah tidak ada satupun yang bisa dan mampu melihat disaat kita melakukan maksiat. Jadi silahkan bersembunyi dimanapun, kalau tidak ada SATUPUN yang melihat disaat kita bermaksiat, namun kenyataannya meskipun kita bisa bersembunyi dari penglihatan manusia, kita sama sekali dan tidak akan mungkin bisa lari dari penglihatan dan pengawasan Allah SWT.

Allah Berfirman dalam Al Quran:

وهو معكم أينما كنتم والله بما تعملون بصير

“Dan Dia (Allah) bersama kamu di mana saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS: AL Hadid; 4)

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Janganlah kamu bersedih sesungguhnya Allah selalu bersama kita. (QS: At Taubah 40)

ألَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

“Apakah kamu tidak melihat bahwasanya Allah SWT Maha Mengetahui apa-apa yang ada dilangit dan apa-apa yang ada dibumi”. (QS: Al Mujadilah: 7)

Dari keterangan dalil-dalil diatas, tentu kita faham bahwa kita tidak bisa lari dari pengawasan dan penglihatan Allah SWT, karena Allah Maha Melihat sekaligus Maha Mengetahui apapun yang kita kerjakan. Oleh karenanya, syarat pertama ini tentu sangat MUSTAHIL sekali jika kita bisa atau mampu memenuhinya.

"Namun... kenyataannya meskipun kita bisa bersembunyi dari penglihatan manusia, kita sama sekali dan tidak akan mungkin bisa lari dari penglihatan dan pengawasan Allah SWT".

Jikalah kiranya kita tidak mampu untuk bersembunyi dari pengawasan Allah, lalu kenapa kita berani bermaksiat dihadapan Allah? Bukankah Allah Maha Melihat? Bukankah Allah Maha Mengetahui Segala apa yang kita kerjakan? Apakah kita tidak punya rasa Malu untuk bermaksiat dihadapan Allah?

Disaat kita sedang berzina contohnya, meskipun ditempat yang tertutup, tidak terlihat oleh seorangpun, tapi ingatlah bahwa Allah selalu melihat apa yang kita kerjakan. Dan apa yang kita kerjakan saat itu akan dimintai pertanggungjawaban dihari akhir nanti. Mampukah kita menyangkal disaat semua amal kita diperlihatkan kelak? Sekali-kali kita tidak akan bisa lari darinya.

اليوم تجزى كل نفس بما كسبت لا ظلم اليوم إن الله سريع الحساب
“Pada hari Ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya”. (QS: Ghafir: 17)

Jadi. Malulah kita disaat kita bermaksiat, disaat kita mengumbar nafsu, dan disaat bersamaan Allah sedang mengawasi kita, Allah sedang melihat kita. Jangan sampai kita tergoda dengan tipu daya syaitan yang akhirnya menjerumuskan kita masuk kedalam neraka. Na’udzubillah…


Syarat kedua: Boleh maksiat jika tidak tinggal di bumi milik Allah SWT.

Kita boleh melakukan apa saja selama kita tidak tinggal atau menumpang hidup di bumi milik Allah ini. Tapi kalau hidup saja masih menumpang, maka tentunya haram melakukan kejahatan atau kemaksiatan dihadapan pemilik tempat tinggal bahkan hidup ini. Allah SWT. Bahkan jika kita ingin bermaksiat di bulan, di Mars, atau planet lainnya. Itu tetap haram. Karena semuanya itu milik Allah SWT.

Allah adalah pemilik alam semesta beserta isinya. Dalam Al Quran Allah berfirman:

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (QS: Al Baqarah 284)

Allah subhanahu wata’ala adalah pemilik apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada dibumi. Jadi Allah berhak untuk mengatur segala apa yang dikehendakinya, termasuk mengatur bumi beserta isi-isinya. Dan kita selaku hambaNya tentu seharusnya mentaati segala peraturan yang telah Allah tetapkan agar kita senantiasa selamat di kehidupan dunia ini hingga akhira kelak.

Jadi selama kita masih tinggal dibumi, maka sebagai orang yang menumpang hidup kita tidak pantas untuk berbuat seenak hati kita. Seperti halnya seorang tamu yang berkunjung dirumah orang lain, maka kita tidak pantas berbuat semau kita. Akan tetapi kita harus bersikap sopan dan mengikuti aturan yang ada sebagai tamu.

Lalu bisakah kita memenuhi syarat yang kedua ini? Tentu jawabannya adalah “Mustahil”. Jika itu tidak mungkin, lalu kenapa kita masih berbuat maksiat dihadapan Allah? Seharusnya kita malu pada diri kita masing-masing..


Syarat ketiga: Boleh maksiat jika tidak makan makanan yang datang dari Allah.

Maksudnya adalah kita diperbolehkan berbuat semau kita, sekehendak kita dan seenak kita jika kita mampu untuk mencari makan sendiri, yaitu mendapatkan makanan yang bukan pemberian dari Allah SWT. Tapi apakah syarat yang ketiga ini juga mungkin dipenuhi? Jawabannya adalah “MUSTAHIL”

Allah Subhanahuwata’ala adalah Maha Pemberi sekaligus yang menanggung semua rizki bagi seluruh makhluknya. Baik yang didarat, laut ataupun diudara. Semua mendapatkan rejeki atas kehendak dan ijin Allah. Tak terkecuali semua hasil usaha dan hasil jerih payah kita dalam bekerja ini adalah pemberian Allah SWT.

Allah berfirman dalam Al Quran:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Huud:6)

“Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku (Allah SWT) melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya dan menyempitkan (siapa yang dikehendakiNya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.”. Surah Saba’ : ayat 39

Begitulah keterangan beberapa dalil tentang ketidak mampuannya seorang hamba, dan kekuasaan Allah yang tiada banding yang kadang kita lupakan dan tidak sadari. Seharusnya kita senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah sediakan kepada kita semua ini dengan senantiasa menjalani apa yang telah Dia perintahkan. Dan janganlah kita berbuat aniaya, kerusakan, kemaksiatan sehingga hanya akan mendatangkan kemurkaan dariNya.

Semua syarat diatas sudah jelas bahwa kita semua selamanya tidak akan mampu untuk memenuhinya. Dengan kata lain maksiat dan berbuat kejahatan itu adalah haram dan dilarang oleh Allah SWT. Semoga kita selalu sadar akan segala keburukan kita, dan kemudian berbuat kebaikan demi mendapatkan rahmat dan ridho dariNYA.

Penulis: Ust. Abu Syauqie Al Mujaddid (Dewan Pembina Solusi Islam)

Sumber Artikel solusiislam.com

orang yang merugi karena Facebook

Secara umum, dunia internet ibarat pisau bermata dua. Bisa kita gunakan untuk sesuatu yang bermanfaat, tapi pada saat yang sama mata pisau yang sebelahnya mengancam keselamatan kita. Maka kita harus cerdas menggunakannya agar ketaqwaan kita tetap terjaga.

Setidaknya sudah lima tahunan ini saya mengenal FaceBook. Beragam kepentingan ada di sini. Ada yang menggunakan FaceBook untuk kebaikan, ada juga yang menggunakan untuk keburukan. Yang tidak punya tujuan jelas juga ada. Tapi saya tidak ingin membicarakan semua itu. Saya hanya ingin fokus untuk membicarakan orang-orang yang merugi di Facebook atau orang yang menggunakan Facebook hanya untuk sebuah kerugian tak ternilai, dunia dan akhirat. Sebagai nasehat kepada mereka dan peringatan kepada kita agar tidak ikut-ikutan menjadi orang yang rugi.

Siapa saja orang yang rugi berfacebook ini? Dalam pengamatan saya ada 4 macam orang yang merugi di FaceBook. Saya akan mengurutkannya dari yang rugi hingga yang paling rugi.

1, Menyia-nyiakan waktu di Facebook.

Ini dilakukan oleh orang yang kurang menghargai waktunya. Melewati hari-harinya hanya untuk update status dan komen tak bermanfaat di FaceBook. Untung baik kalau tidak mengganggu kewajibannya. Karena Facebook dia jadi sering ‘masbook’ dalam shalat berjama’ah, meski ini masih mending daripada shalat sendirian apalagi tidak shalat sama sekali tapi dipastikan setan sudah tertawa kemenangan.
Waktu adalah ibadah, itulah prinsip yang harus dipegang oleh setiap muslim. Sungguh merugi waktu itu dihabiskan hanya untuk sesuatu yang mungkin tidak bisa kita pertanggung jawabkan dihadapan Allah kelak, apalagi untuk itupun kita harus merogoh harta kita. Jadi selain rugi waktu kita pun harus rugi materi pula.

2. Memberangus pahala di Facebook.

“Alhamdulillah, indahnya shalat berjama’ah…” Ini contoh status orang yang saya maksud. Meski sebenarnya dikembalikan pada niat si punya status, tapi dikhawatirkan status-status seperti ini akan menyeret pelakunya pada sifat riya’. Sebuah syirik kecil yang kadang tidak terasa. Namun bisa mengikis amalan kita sampai habis tak tersisa.

Disamping itu biasanya orang seperti ini juga akan sangat mudah update status tentang ‘keburukan’ yang menimpa mereka. “Aduh flu lagi!” Wall (dinding) Facebook mereka juga seakan menjadi tembok ratapan ala Yahudi–sebagaimana sebuah ilustrasi gambar yang pernah saya lihat. Ah, betapa lebaynya kita jika masalah yang kecilpun harus ditahu oleh orang lain.

Allah adalah sebaik-baik tempat kita untuk mengungkapkan segala permasalahan kita. Dijamin, apapun yang kita keluhkan kepada Allah tidak akan sia-sia. Allah tidak akan menertawakan keluhan sekecil dan sesering apapun itu. Semakin banyak kita berdoa maka itu merupakan penegasan bahwa kita adalah hamba yang butuh kepada Allah Azza wa Jalla.

3. Melakukan penipuan di Facebook

Dimana-mana penipu selalu saja lihai memanfaatkan peluang di hadapan mereka, termasuk di Facebook. Sebuah akun yang menjual barang-barang elektronik disinyalir sebagai penipu –saat ini akunnya sudah tutup. Si pemilik akun mengiming-imingi calon korbannya dengan diskon yang besar sampai 50%, sudah itu katanya barang akan dikirim meski si pembeli baru bisa bayar setengah. Dalam dunia belanja online ini memang sangat aneh! Bagaimana mungkin si penjual akan langsung percaya bahwa si pembeli akan membayar sisanya begitu barang sudah ia dapatkan? Namun ternyata itu memang hanya akal bulusnya saja untuk menarik korbannya. Alhasil, uang sudah dikirim, barang yang dipesan tidak datang-datang.

Tentu saja itu hanya salah satu modus dari sekian banyak modus yang lainnya. Makanya hati-hatilah. Jangan sampai Anda menjadi korban penipuan berikutnya, terlebih lagi Anda tidak boleh jadi penipu berikutnya!

4. Menyebarkan Kesesatan di Facebook

Menurut saya, inilah orang yang paling rugi di Facebook. Orang-orang yang masuk kategori ini biasanya dari Misionaris, Syi’ah, Iblis Liberal dan para penebar fitnah lainnya. Terus terang saya paling kasihan dengan orang yang melakukan hal ini. Mereka sudah mengorbankan waktunya, menghabiskan uangnya, menguras tenaga dan pikirannya, namun untuk melakukan pengaburan terhadap kebenaran dan menyebarkan kesesatan mereka. Saya tidak bisa membayangkan ‘Multi Level Dosa’ yang mereka peroleh.

Mereka seperti orang yang sudah berlelah-letih, bersusah payah terancam neraka pula.
“(Ia) bekerja keras lagi kepayahan, lalu memasuki api yang panas (neraka)” (Terjemah QS. Al-Ghasiyah: 3-4)

Sumber solusiislam.com

Jumat, Juni 13, 2014

MENGENAL AGAMA ISLAM

Secara kebahasaan, Islam terambil dari kata sin-lam-mim yang membentuk kata salama yang berarti selamat. Sehingga, menjadi seorang muslim adalah seseorang yang mencari jalan keselamatan. Ketiga huruf di atas juga bisa dibaca silm atau salm yang mempunyai arti perdamaian dan keamanan. Maka, bisa juga dikatakan bahwa seorang muslim adalah orang yang selalu mencari perdamaian dan suka berdamai, karena dengan perdamaianlah akan tercipta suasana dan lingkungan yang aman.
Dari akar kata tersebut, terambil pula kata aslama yang dalam bentuk asalnya (masdar) terambil kata islām sebagai nama dari agama Samawi terakhir yang diturunkan Allah swt. Kata yang terakhir ini berarti ketundukan, patuh, dan penyerahan diri.
Oleh sebab itu, Islam adalah penyerahan. Muslim adalah orang yang menyerah. Penyerahan di sini adalah tidak hanya sekadar penyerahan fisik, tetapi seluruh totalitas jiwa dan raga menyerah dan tunduk patuh kepada Allah swt. Karena, keislaman dan keimanan menuntut pembenaran hati, pengakuan dengan lidah, serta aktivitas anggota tubuh yang menandai kepatuhan dan ketundukan kepada Allah swt.

Ketundukan Seluruh Makhluk
Menjadi seorang muslim adalah menjadi manusia yang mengikuti gerak alam raya. Karena, pada dasarnya semua makhluk dari semua jenis dan spesies, baik yang mati maupun yang hidup, yang ada di langit dan di bumi, tunduk dan patuh kepada Sang Maha Pencipta, baik itu dilakukan dengan senang hati maupun terpaksa. Dengan kata lain, menjadi seorang muslim adalah menjadi orang yang bersama-sama dengan makhluk lain melakukan penyerahan dan ketundukan kepada Allah swt.
Allah swt berfirman dalam Al-Quran,
Artinya, “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 83).
Karena itu, maka orang-orang yang mencari agama (jalan hidup) selain agama Islam, dalam ajaran dan keyakinan umat ini tidak akan diterima. Hal ini ditegaskan melalui ayat 85 berikutnya di dalam surah yang sama.
Artinya, “Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 85).
Di atas telah dijelaskan bahwa keislaman seseorang menuntut adanya pembenaran hati dan pengucapan lisan serta dimanifestasikan dalam tindakan nyata. Para ulama sering mengaitkan ajaran ini dengan sebuah hadis Rasulullah saw tentang Malaikat Jibril as yang datang kepada Rasulullah saw untuk mengajarkan umat tentang arti Islam, Iman, dan Ihsan. Hadis itu menjadi fondasi bagi ajaran Rukun Islam (ada 5 hal), Rukun Iman (ada 6 hal), dan Ihsan.
Tidak dikatakan beriman seseorang yang hanya meyakini adanya Allah, karena keimanannya harus diungkapkan melalui pengakuan lisannya. Dan, tidak cukup keimanan berhenti disitu, maka harus dibuktikan dengan amal perbuatan.
Iman yang sesungguhnya ialah kepercayaan yang terhujam di kedalaman hati dengan penuh keyakinan, tak ada perasaan syak dan ragu-ragu, serta memengaruhi orientasi kehidupan, sikap dan aktivitas kesehariannya. Jadi, tidak bisa dikatakan sebagai iman, jika sekadar amal perbuatan dan sebatas pengetahuan mengenai Rukun Iman.
Iman bukan sekadar ucapan lisan seseorang bahwa dirinya adalah orang mukmin. Sebab, orang-orang munafik pun dengan lisannya menyatakan hal yang sama, namun hatinya mengingkari apa yang dinyatakan itu. Mengenai hal itu, Allah swt berfirman,
Artinya, “Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami telah beriman kepada Allah dan hari Kemudian,’ padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang mukmin. Mereka bermaksud dengan sungguh-sungguh menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri sedang mereka tidak sadar” (QS. al-Baqarah [2]: 8-9).
Iman juga bukan sekadar amal perbuatan an sich yang secara lahiriah merupakan ciri khas perbuatan orang-orang beriman. Sebab, orang-orang munafik pun tak sedikit yang secara lahiriah mengerjakan amal ibadah dan berbuat baik, sementara hati mereka bertolak belakang dengan perbuatan lahirnya, apa yang dikerjakan bukan didasari keikhlasan mencari rida Allah swt. Hal ini seperti yang telah diinformasikan oleh Allah swt,
Artinya, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Dia pun membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka ria di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. an-Nisâ’ [4]: 142).
Demikian juga iman bukan sekadar pengetahuan akan makna dan hakikat iman. Sebab tak sedikit orang yang mengetahui hakikat iman, akan tetapi mereka tetap ingkar. Allah swt berfirman,
Artinya, “Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka, perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan” (QS. an-Naml [27]: 14);
      Artinya, “... dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan     kebenaran, padahal mereka mengetahui” (QS. al-Baqarah [2]: 146).

Kisah Iblis
Pada hakikatnya, iblis sangat mengenal Allah serta mengakui keesaan-Nya. Sebelum pembangkangannya, ia digelari "Burung Merak Malaikat" karena ketekunannya bersujud kepada Allah swt. Nalarnya mengakui keesaan-Nya. Ia mengakui keniscayaan Kiamat. Tetapi, ketika ia diperintah sujud kepada Adam as, hatinya menolak. Ketika itu, ia tidak lagi dinamai muslim, ia dicap oleh Allah sebagai kafir. Seyogianya, penyerahan diri kepada Allah menuntut pelaksanaan perintah Allah segera setelah perintah itu dititahkan.
Syekh Abdul Halim Mahmud dalam buku al-Islâm wa al-‘Aql (Islam dan Akal) menulis, "Iblis dikecam dan dikutuk Allah bukan saja karena ia enggan bersujud, melainkan karena ia enggan sujud pada saat diperintah." Dalam Al-Quran disebutkan, "Apa yang menghalangimu bersujud pada saat engkau Kuperintah" (QS. al-A'râf [7]: 12). Demikian kecaman Allah kepadanya. Ini—tulis Abdul Halim Mahmud—dipahami dari kata idz/pada saat, yang digunakan Allah ketika "bertanya". Karena itu, lanjutnya, iblis akan tetap dikecam walaupun seandainya beberapa saat kemudian ia sujud, karena ketika itu ia menangguhkan pelaksanaan perintah Allah, padahal ia mampu melaksanakannya saat ia diperintah. Iblis "saat" diperintah tidak langsung menerima, tetapi mempertimbangkan apakah perintah itu sesuai atau tidak dengan nalarnya, apakah sejalan dengan keinginannya atau tidak. Penundaan itu—walau seandainya dilaksanakan—tidak menunjukkan penyerahan diri secara mutlak kepada Allah swt, padahal keberagamaan adalah istislâm (penyerahan diri secara penuh kepada Allah). Agama atau perintah-perintah Allah tidak diturunkan atau ditetapkan-Nya untuk dipertimbangkan  oleh manusia sehingga yang dikerjakan dan dipercaya hanya yang sesuai dengan nalar dan yang tidak sesuai ditolak. Tidak! Agama, perintah, dan larangan-Nya ditetapkan untuk dipercaya dan dilaksanakan sebagaimana yang diperintahkan oleh-Nya, baik dipahami maupun tidak.
Namun, alangkah baiknya jika keislaman seorang muslim adalah Islam hati dan juga akalnya. Allah berfirman dalam QS. al-Baqarah [2]: 208 sebagai berikut:
Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”
Maksud ayat ini, antara lain, adalah menyatukan akal dan hati, jangan berlaku seperti setan yang memisahkan antara hati dan akalnya, serta menyulut peperangan antara perasaan dan pengetahuannya. Pada saat seseorang menyerahkan diri secara fisik, nalar, dan jiwanya kepada Allah dan Rasul, maka pada saat itu pula dia dinamai muslim sejati.

Kerangka Dasar Agama Islam
            Dengan mengikuti sistematik Iman, Islam, dan Ihsan yang berasal dari Nabi Muhammad saw, dapat dikemukakan bahwa kerangka dasar agama Islam terdiri atas:
1. Akidah
2. Syariat
3. Akhlak
    Yang dimaksud dengan akidah, menurut ilmu tentang asal usul kata (etimologi) adalah ikatan, sangkutan. Sedangkan menurut ilmu tentang definisi (terminologi) adalah iman, keyakinan. Karena itu, akidah selalu ditautkan dengan Rukun Iman yang merupakan asas seluruh ajaran Islam.
    Yang dimaksud dengan syariat menurut etimologi adalah jalan yang harus ditempuh. Menurut peristilahan, syariat adalah sistem norma (kaidah) Ilahi yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, mengenai hubungan manusia dengan sesama manusia dalam kehidupan sosial, hubungan manusia dengan benda dan alam lingkungan hidupnya. Kaidah yang mengatur hubungan langsung manusia dengan Allah disebut kaidah ibadah atau kaidah ‘ubudiyyah yang disebut juga kaidah ibadah murni. Kaidah yang mengatur hubungan manusia selain dengan Allah disebut kaidah muamalah. Disiplin ilmu yang membahas dan menjelaskan syariat disebut ilmu fikih.
    Yang dimaksud dengan akhlak adalah sikap yang menimbulkan perilaku baik dan buruk. Berasal dari kata khuluk yang berarti perangai, sikap, perilaku, watak, dan budi pekerti.[]

Sabtu, Mei 24, 2014

Kisah Nabi Ilyas Alaihissalam

Ketika sedang beristirahat datanglah Malaikat kepada Nabi Ilyas AS, Malaikat itu datang untuk menjemput ruhnya. Mendengar berita itu, Nabi Ilyas AS menjadi sedih dan menangis.
“ Mengapa engkau bersedih?” tanya Malaikat maut.
“ Tidak tahulah.” Jawab Nabi Ilyas AS.
“Apakah engkau bersedih karena akan meninggalkan dunia dan takut menghadapi maut ?” tanya Malaikat.
“Tidak. Tiada sesuatu yang aku sesali kecuali karena aku menyesal tidak boleh lagi berzikir kepada Allah, sementara yang masih hidup boleh terus berzikir memuji Allah, ” jawab Nabi Ilyas AS.
Saat itu Allah SWT lantas menurunkan wahyu kepada Malaikat agar menunda pencabutan nyawa itu dan memberi kesempatan kepada Nabi Ilyas AS berzikir sesuai dengan permintaannya. Nabi Ilyas AS ingin terus hidup semata-mata karena ingin berzikir kepada Allah SWT. Maka berzikirlah Nabi Ilyas AS sepanjang hidupnya.
taman
“ Biarlah dia hidup di taman untuk berbisik dan mengadu serta berzikir kepada-Ku sampai akhir nanti. ” Firman Allah SWT.

Kisah Nabi Idris Alaihissalam

Lalu keduanya menerusakan perjalanan sampai empat hari lamanya dan selama itu pula Nabi Idris AS menemukan keanehan yang ada pada Malaikat itu dan Nabi Idris AS bertanya: ”Hai tuan, kamu ini sebenarnya siapa?”,
Malaikat itu menjawab: ”Saya adalah malaikat pencabut nyawa”.
Nabi Idris AS bertanya:” Apakah kamu akan mencabut nyawa manusia?”,
Malaikat menjawab:”Ya”,
Nabi Idris AS bertanya: ”Apakah kamu juga mencabut nyawa selama dalam perjalanan bersama saya?”,
Malaikat menjawab: ”Ya, saya telah mencabut beberapa nyawa manusia dan sesungguhnya nyawa manusia itu adalah bagaikan hidangan makanan, sebagai mana kamu menghadapi sesuap makanan saja”.
Nabi Idris AS berkata: ”Dan apakah kamu datang ini untuk mencabut nyawa saya atau sekedar berkunjung?”,
Malaikat menjawab: ”Saya datang hanya untuk berkunjung”,
Nabi Idris AS berkata: ”kalau begitu saya punya hajat kepadamu”,
Malaikat menjawab: ”Hajat apa, hai Nabi Idris?”
Nabi Idris AS berkata: ”Saya ingin agar kamu mencabut nyawa saya, lalu memohonlah kepada Allah untuk menghidupkan saya sehingga saya bisa beribadah kepada Allah sesudah merasakan sakitnya mati”.
Malaikat menjawab: ”Sungguh saya tidak bisa mencabut nyawa seseorang tanpa seijin Allah”.
Lalu Allah SWT berfirman kepada Malaikat: ”Cabutlah nyawa Idris!”.
Kemudian malaikat itu mencabut nyawa Nabi Idris AS dan matilah Nabi Idris AS lalu Malaikat menangis sambil merendahkan diri untuk memohon kepada Allah SWT agar menghidupkan Nabi Idris AS kembali, kemudian Allah menghidupkan Nabi Idris AS, lalu malaikat bertanya: ”Hai Nabi Idris bagaimana rasanya mati itu?”.
Nabi Idris AS berkata:”Sungguh rasanya mati itu bagaikan binatang yang dikuliti dalam keadaan masih hidup, sedang rasa mati itu melebihi 100X lipat rasa sakit binatang yang dikuliti dalam keadaan masih hidup”.
Malaikat menjawab:”Hai Nabi Idris, padahal saya mencabut nyawamu itu dengan cara hati-hati dan sangat halus dan ini belum pernah saya lakukan kepada siapapun”.
Nabi Idris AS berkata: ”Saya mempunyai hajat yang lain kepadamu, yaitu ingin melihat neraka jahannam, agar saat melihat itu saya lebih banyak beribadah kepada Allah”.
Malaikat menjawab: ”Sungguh saya tidak bisa masuk neraka jahannam tanpa ada izin dari Allah”, lalu Allah SWT berfirman kepada Malaikat: ”Pergilah kamu bersama Nabi Idris ke neraka jahannam”.
Kemudian malaikat bersama Nabi Idris AS pergi ke neraka jahannam, maka Nabi Idris AS dapat melihat segala yang dipersiapkan untuk menyiksa di neraka jahannam, lalu keduanya kembali dari neraka jahannam. Nabi Idris AS berkata: ”Saya punya hajat lagi kepada kamu, agar kamu mengajakku pergi ke syurga,dan setelah itu saya akan menjadi hamba yang lebih taat dalam beragama”.
Malaikat berkata: ”Saya tidak bisa masuk syurga tanpa ada ijin dari Allah”.
Lalu Allah AS berfirman: ”Hai Malaikat pergilah kamu bersama Idris ke syurga”.
istana
Dan keduanya pergi ke syurga dan berhanti di depan pintu syurga, maka Nabi Idris AS dapat melihat segala kenikmatan yang ada dalam syurga, melihat kerajaan yang banyak, melihat anugerah yang banyak dan melihat pepohonan dan buah-buahan yang beraneka macam ragamnya.
Nabi Idris berkata: ”Wahai Malaikat, saya telah merasakan mati, telah melihat segala macam siksaan dalam neraka, lalu mohonlah kepada Allah, agar ia memberi izin saya masuk ke syurga, sehingga saya dapat minum air syurga dan sakit saya menjadi hilang serta terhindar dari neraka jahannam”.
Lalu Allah Berfirman kepada malaikat: ”Masuklah kamu ke syurga bersama Idris”, kemudian keduanya masuk syurga dan Nabi Idris AS meletakan sandalnya di bawah salah satu pohon di syurga, dan setelah keluar dari syurga.Nabi Idris berkata kepada Malaikat: ”Sungguh sandal saya tertinggal di syurga, maka kembalikan saya ke syurga”, dan setelah Nabi Idris AS tiba di syurga, Nabi Idris AS tidak mau di ajak keluar, ia ingin tetap tinggal dalam syurga, hingga Malaikat berteriak:”Hai Nabi Idris, keluarlah”, dan Nabi Idris AS tetap tidak mau keluar, dan berkata: ” Karena Allah telah berfirman”: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…”(Q.Surat Ali’imran ayat 185), Sedang saya telah merasakan mati.
Dan Allah Berfirman: “Dan tidak seorangpun darimu, melainkan mendatangi neraka itu….” (Q.Surat Maryam ayat 71). Dan sungguh saya telah memasuki neraka jahannam, dan Allah juga berfirman: “…….. dan sekali-kali mereka tidak akan di keluarkan dari padanya (syurga)”. (Q.Surat AL Hijr ayat 48)”.
Malaikat berkata: ”Lantas siapa yang akan mengeluarkan mu?”.
Lalu Allah berfirman kapada Malaikat: ”Tinggalkanlah Nabi Idris di syurga, sungguh Aku telah menetapkannya, bahwa ia termasuk ahli syurga”, kemudian Malaikat itu meninggalkan Nabi Idris AS di syurga dan tetaplah Nabi Idris AS berada dalam syurga untuk selama-lamanya. (Blog Anak Indonesia Timur).

Kisah Nabi Khidir Alaihissalam

Pada saat Raja Iskandar Dzul Qarnain pada tahun 322 S. M. berjalan di atas bumi menuju ke tepi bumi, Allah SWT mewakilkan seorang malaikat yang bernama Rofa’il untuk mendampingi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Di tengah perjalanan mereka berbincang-bincang, Raja Iskandar Dzul Qarnain berkata kepada malaikat Rofa’il: “Wahai malaikat Rofa’il ceritakan kepadaku tentang ibadah para malaikat di langit ”,
malaikat Rofa’il berkata, “Ibadah para mailaikat di langit di antaranya ada yang berdiri tidak mengangkat kepalanya selama-lamanya, dan ada pula yang rukuk tidak mengangkat kepala selama-lamanya ”.
Kemudian raja berkata, “Alangkah senangnya seandainya aku hidup bertahun-tahun dalam beribadah kepada Allah ”.
Lalu malaikat Rofa’il berkata, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan sumber air bumi, namanya ‘Ainul Hayat’ yang berarti, sumber air hidup. Maka barang siapa yang meminumnya seteguk, maka tidak akan mati sampai hari kiamat atau sehingga ia mohon kepada Allah agar supaya dimatikan ”.
Kemudianya raja bertanya kepada malaikat Rofa’il, “Apakah kau tahu tempat “Ainun Hayat itu?”.
mailaikat Rofa’il menjawab, “Bahwa sesungguhnya Ainun Hayat itu berada di bumi yang gelap ”.
Setelah raja mendengar keterangan dari malaikat Rofa’il tentang Ainul hayat, maka raja segera mengumpulkan ‘Alim Ulama’ pada zaman itu, dan raja bertanya kepada mereka tentang Ainul Hayat itu, tetapi mereka menjawab, “Kita tidak tahu khabarnya, namun seoarng yang alim di antara mereka menjawab, “ Sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat nabi Adam AS, beliau berkata bahwa sesungguhnya Allah meletakkan Ainul Hayat di bumi yang gelap ”.
“Di manakah tempat bumi gelap itu?” tanya raja.
Seorang yang alim menjawab, “Di tempat keluarnya matahari”.
gurun
Kemudian raja bersiap-siap untuk mendatangi tempat itu, lalu raja bertanya kepada sahabatnya. “Kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap ?”.
Para sahabat menjawab, “Kuda betina yang perawan”.
Kemudian raja mengumpulkan 1000 ekor kuda betina yang perawan-perawan, lalu raja memilih-milih di antara tentaranya, sebanyak 6000 orang dipilih yang cendikiawan dan yang ahli mencambuk.
Di antara mereka adalah Nabi Khidir AS, bahkan beliau menjabat sebagai Perdana Menteri. Kemudian berjalanlah mereka dan Nabi Khidir AS berjalan di depan pasukannya dan mereka jumpai dalam perjalanan, bahwa tempat keluarnya matahari itu tepat pada arah kiblat.
Kemudian mereka tidak berhenti-henti menempuh perjalanan dalam waktu 12 tahun, sehingga sampai ditepi bumi yang gelap itu, ternyata gelapnya itu memancar seperti asap, bukan seperti gelapnya waktu malam. Kemudian seorang yang sangat cendikiawan mencegah Raja masuk ke tempat gelap itu dan tentara-tentaranya, berkata ia kepada raja. ”Wahai Raja, sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk tempat yang gelap ini karena tempat yang gelap ini berbahaya. ”
Lalu Raja berkata: ” Kita harus memasukinya, tidak boleh tidak.”
Kemudian ketika Raja hendak masuk, maka meraka semua membiarkannya. Kemudian Raja berkata kepada pasukannya: ”Diamlah, tunggulah kalian ditempat ini selama 12 tahun, jika aku bisa datang pada kalian dalam masa 12 tahun itu, maka kedatanganku dan menunggu kalian termasuk baik, dan jika aku tidak datang sampai 12 tahun, maka pulanglah kembali ke negeri kalian”.
Kemudian raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: ” Apabila kita melewati tempat yang gelap ini, apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita ?”.
“Tidak bisa kelihatan”,jawab malaikat Rofa’il,” akan tetapi aku memberimu sebuah merjan atau mutiara, jika merjan itu ke atas bumi, maka mutiara tersebut dapat menjerit dengan suara yang keras, dengan demikian maka kawan- kawan kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian.”
Kemudian Raja Iskandar Dzul Qurnain masuk ke tempat yang gelap itu bersama sekelompok pasukannya, mereka berjalan di tempat yang gelap itu selama 18 hari tidak pernah melihat matahari dan bulan, tidak pernah melihat malam dan siang, tidak pernah melihat burung dan binatang liar, sedangkan raja berjalan dengan didampingi oleh Nabi Khidlir AS.
Di saat mereka berjalan, maka Allah SWT memberi wahyu keapda Nabi Khidlir AS, ”Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan Ainul Hayat ini Aku khususkan untuk kamu ”.
Setelah Nabi Khidlir menerima wahyu tersebut, kemudian beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya: “ Berhentilah kalian di tempat kalian masing-masing dan janganlah kalian meninggalkan tempat kalian sehingga aku datang kepada kalian. ”
Kemudian beliau berjalan menuju ke sebelah kanan jurang, maka didapatilah oleh beliau sebuah Ainul Hayat yang dicarinya itu. Kemudian Nabi Khidlir AS turun dari kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun ke “Ainul Hayat” (sumber air kehidupan) tersebut, dan beliau terus mandi dan minum sumber air kehidupan tersebut, maka dirasakan oleh beliau airnya lebih manis daripada madu. Setelah beliau mandi dan minum Ainul hayat tersebut, kemudian beliau keluar dari tempat Ainul Hayat itu terus menemui Raja Iskandar Dzulkarnain, sedangkan raja tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Nabi Khidlir AS, tentang melihat Ainul Hayat dan mandi.
(Menurut riwayat yang diceritakan oleh Wahab bin Munabbah), dia berkata, bahwa Nabi Khidlir AS adalah anak dari bibi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Dan raja Iskandar Dzulkarnain keliling di dalam tempat yang gelap itu selama 40 hari, tiba-tiba tampak oleh Raja sinar seperti kilat, maka terlihat oleh Raja, bumi yang berpasir merah dan terdengar oleh raja suara gemercik di bawah kaki kuda, kemudian Raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: “Gemercik ini adalah suara benda apabila seseorang mengambilnya, niscaya ia akan menyesal dan apabila tidak mengambilnya, niscaya ia akan menyesal juga. ”
Kemudian di antara pasukan ada yang membawanya namun sedikit, setelah mereka keluar dari tempat yang gelap itu, ternyata bahwa benda tersebut adalah yakut yang berwarna merah dan jambrut yang berwarna hijau, maka menyesallah pasukan yang mengambil itu karena mengambilnya hanya sedikit, demikianlah pula pasukan yang tidak mengambilnya, bahkan lebih menyesal. Diriwayatkan oleh Ats-tsa’Labi dari: Iman Ali Rodliayllohu ‘ anhu.
1. Cerita ini dikutib dari kitab “ Baidai’iz karangan Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas halaman 166 – 168. Penerbit: Usaha Keluarga s Semarang.
2. Cerita dari Kitab Nuzhatul Majalis Karangan Syeikh Abdul Rohman Ash-Shafuri.
Penerbit Darul Fikri Bairut Halaman 257 – 258.
(Salafy Tobat).

Kisah Nabi Isa Alaihissalam

Al-Qur’an menerangkan dalam surat AnNisaa’:157 bahwa Nabi Isa AS tidaklah dibunuh maupun disalib oleh orang-orang Kafir. Adapun yang mereka salib adalah orang yang bentuk dan rupanya diserupakan oleh Allah SWT seperti Nabi Isa AS (sebagian ulama berpendapat orang yang diserupakan adalah muridnya yang berkhianat yang bernama Yudas Iskariot) dan karena ucapan mereka:
“Sesungguhnya kami telah membunuh AlMasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.
(An Nisaa’ : 157)
langit
Nabi Isa AS diselamatkan oleh Allah SWT dengan jalan diangkat ke langit dan ditempatkan disuatu tempat yang hanya Allah SWT yang tahu tentang hal ini. AlQur’an menjelaskan tentang peristiwa penyelamatan ini. ”Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ :158)
(Khotib).

Kamis, Maret 08, 2012

Menata Akhlak Menuju Ridha dan Cinta-Nya

☆ Menata Akhlak Menuju Ridha dan Cinta-Nya☆
☀♥•*¨`*•. (¯`v´¯) (¯`v´¯) .•*¨`*• ♥☀ ….♥★ *¨`*•.¸(¯`v´¯)¸.•´*¨`*•♥★ ☆Menata Akhlak Menuju Ridha dan Cinta-Nya☆ Bismillaahirrahmaanirrahiim Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Sahabat, saudaraku fillah.... Hidup akan penuh makna apabila kita mampu mengambil hikmah dari siapapun dan dari manapun. Kita perlu bersikap demikian karena kita bukanlah manusia yang terbaik di dunia ini. Kita hanya makhluk yang sebatas berusaha menjadi manusia yang terbaik, senantiasa berproses menjadi manusia yang bermanfaat baik bagi diri maupun orang lain. Namun harus kita sadari pula bahwa menjadi orang yang terbaik tidaklah terwujud begitu saja, segalanya perlu usaha yang maksimal dimulai dari diri kita sendiri. Sahabat, saudaraku fillah... Mulia dan tidaknya manusia sangat tergantung pada akhlaknya. Oleh karena itu Rasulullah diutus ke dunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Manusia yang berakhlak mulia adalah ibarat mutiara yang berharga. Dia akan menjadi ragi yang akan mengubah singkong menjadi tape, dia juga akan menjadi garam yang menguatkan rasa. Begitulah orang yang berakhlak mulia akan mengubah masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam untuk hidup secara islami. Dalam menghadapi kondisi akhlak manusia yang begitu rusak seperti sekarang ini, kita tidak boleh berkecil hati akan kemungkinan berhasil melakukan perbaikan akhlak, karenanya diperlukan usaha, keterlibatan, dan kerjasama semua pihak, serta usaha yang berkesinambungan. Manusia menjadi terbaik karena akhlaknya yang baik. " Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya ." ( HR. Thabrani dari Ibnu Umar ). Akhlak yang harus ditunjukkan oleh manusia bila ingin menjadi manusia yang terbaik di antaranya: ♥☆.Akhlak kepada Allah Akhlak kepada Allah diwujudkan dalam ketaatan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. ♥☆.Akhlak kepada manusia Meliputi akhlak terhadap diri sendiri, keluarga dan masyarakat sekitar dengan akhlak sebaik-baiknya antara lain saling tolong menolong dalam kebaikan juga beramar ma'ruf ( memerintahkan orang lain melakukan kebaikan ) dan nahi munkar ( mencegah manusia dari melakukan kemungkaran ). " Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah...... "( QS. Al - Imran : 110 ). ♥☆.Akhlak terhadap binatang, tumbuhan serta alam seisinya. Hal ini diwujudkan dengan merawat, memelihara dan tidak merusak kelestarian lingkungan alam. Sahabat...saudaraku fillah... Betapa indahnya apabila kita senantiasa menata dan merawat akhlak kita sebaik-baiknya. Ibarat taman bunga yang pemiliknya senantiasa merawat dan menata dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Subhanallah.. Lihatlah betapa indahnya taman bunga itu, kombinasi warnanya begitu artistik. Wewangian harumnya semerbak ke seantero taman, tak hanya tercium oleh pemiliknya tapi juga oleh siapapun yang kebetulan berlalu lewat taman. Sungguh alangkah indah dan mengesankan. Begitupun akhlak yang senantiasa tertata, terpelihara dan terawat sebaik-baiknya. Pemiliknya akan senantiasa merasakan kehidupan yang lapang, tentram, sejuk dan indah. Hal ini akan tercermin dalam perilakunya sehingga orang lain akan merasakan manfaat akan kehadirannya, karena baginya kehidupan yang menyenangkan adalah apabila bisa berbagi kebaikan dan bermanfaat bagi sesama. Sahabat, saudaraku fillah... Semoga atas pertolongan Allah kita istiqamah menata, merawat dan memperbaiki akhlak agar dari hari ke hari makin baik dengan hanya mengharapkan ridha dan cinta Allah semata. ..(¯`v´¯) ☀♥•★☆ …`•.¸.•´ ♥♥...♥*☆ ♥*☆ ƸӜƷ.¸¸¸.•• ƸӜƷ♥*☆ ★♥•*¨`*•. (¯`v´¯) (¯`v´¯) .•*¨`*• ♥★ ❀ Sahabat fillah ... yang belum di tag silahkan di tag/share….semua untuk umat dan syiar Islam, Silahkan dibantu sahabat yang belum ditag,, Jazakumullahu khairan wa barakallahu fiikum. ❀ ❀❀  ❀❀ ✿WANITA SHOLEHAH✿Mutiara Muslimah Sejati✿ ✿MENATA AKHLAQ Menuju Ridha dan Cinta-NYA✿